NUSA TENGGARA TIMUR — Gempa bumi kuat mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Bencana tersebut menimbulkan kerusakan cukup luas di sejumlah wilayah Pulau Flores dan menyebabkan puluhan warga meninggal dunia.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal dunia akibat gempa tersebut mencapai 47 orang. Data sementara itu merupakan hasil pendataan pemerintah dan tim penanganan bencana yang masih terus bergerak di sejumlah lokasi terdampak.
Korban meninggal tersebar di beberapa kabupaten. Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan jumlah korban jiwa terbanyak, yakni 24 orang. Berikutnya Kabupaten Manggarai Timur dengan 17 orang, Sikka tiga orang, serta masing-masing satu korban meninggal di Ngada dan Ende.
Jumlah korban tersebut masih bersifat sementara. Petugas gabungan hingga Sabtu malam masih melakukan pencarian, evakuasi, pendataan kerusakan, serta memberikan pertolongan kepada warga yang mengalami luka-luka.
Gempa M7,7 Guncang Flores pada Sabtu Pagi
Gempa yang kemudian menimbulkan dampak serius tersebut terjadi pada Sabtu pagi. Berdasarkan pemutakhiran Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa utama memiliki magnitudo 7,7 dengan kedalaman sekitar 15 kilometer.
BMKG menyebut gempa tersebut tergolong gempa tektonik dangkal yang berkaitan dengan aktivitas Flores Back Arc Thrust, sebuah struktur sesar naik yang berada di kawasan utara Pulau Flores. Kedalaman yang relatif dangkal menjadi salah satu faktor yang membuat guncangan terasa kuat dan berdampak terhadap bangunan di sejumlah wilayah.
Gempa utama tercatat terjadi sekitar pukul 04.58 WIB. Dalam waktu singkat setelah kejadian, BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami karena karakteristik gempa memungkinkan terjadinya perubahan muka air laut.
Peringatan tersebut kemudian diakhiri pada pukul 07.30 WIB setelah hasil pemantauan menunjukkan kondisi muka laut kembali aman. Meski demikian, sejumlah wilayah pesisir sempat mengalami gelombang tsunami dengan ketinggian yang terukur oleh alat pemantau BMKG.
BMKG mencatat gelombang tsunami mencapai puncak 1,61 meter di Reo, Manggarai dan wilayah Manggarai Timur. Di Maurole, Kabupaten Ende, gelombang tercatat sekitar 0,94 meter. Pengamatan juga mencatat gelombang di sejumlah wilayah lain di luar NTT.
Kondisi tersebut membuat masyarakat di sejumlah daerah pesisir bergegas meninggalkan bangunan dan menuju lokasi yang dianggap lebih aman. Dalam situasi seperti itu, kepanikan menjadi tantangan tersendiri karena warga juga harus menghadapi kemungkinan gempa susulan.
BNPB Catat 47 Korban Meninggal Dunia
Informasi terbaru mengenai korban disampaikan BNPB pada Sabtu. Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan bahwa jumlah korban meninggal dunia telah mencapai 47 orang.
Rinciannya terdiri dari 24 korban di Kabupaten Manggarai, 17 korban di Kabupaten Manggarai Timur, tiga korban di Kabupaten Sikka, satu korban di Kabupaten Ngada, dan satu korban di Kabupaten Ende.
Angka tersebut menunjukkan bahwa dampak gempa tidak hanya terpusat di sekitar titik episentrum, tetapi menyebar ke beberapa wilayah di Pulau Flores.
Kabupaten Manggarai menjadi salah satu daerah yang mengalami dampak paling berat. Banyak bangunan mengalami kerusakan, sementara proses evakuasi menghadapi tantangan berupa kondisi medan dan akses menuju sejumlah lokasi terdampak.
Di Manggarai Timur, dampak gempa juga cukup besar. Selain korban meninggal dunia, terdapat warga yang mengalami luka-luka dan membutuhkan penanganan medis.
Sementara itu, Kabupaten Sikka, Ngada, dan Ende juga masuk dalam daftar wilayah yang mencatat korban meninggal akibat bencana tersebut.
BNPB menegaskan bahwa proses pendataan masih berlangsung. Dengan kondisi lapangan yang berubah cepat, jumlah korban dan kerusakan dapat mengalami perubahan setelah seluruh wilayah berhasil diperiksa oleh petugas.
Ratusan Rumah Mengalami Kerusakan
Selain menimbulkan korban jiwa, gempa NTT juga menyebabkan kerusakan pada ratusan rumah warga.
Data sementara BNPB mencatat terdapat 157 rumah rusak berat, 41 rumah rusak sedang, dan 148 rumah rusak ringan. Jika seluruh kategori tersebut dijumlahkan, setidaknya 346 rumah telah tercatat mengalami kerusakan.
Kerusakan rumah menjadi persoalan penting dalam penanganan pascabencana. Warga yang rumahnya mengalami kerusakan berat tidak dapat langsung kembali ke tempat tinggal mereka karena bangunan berpotensi membahayakan keselamatan.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan terhadap tempat pengungsian, makanan, air bersih, layanan kesehatan, selimut, pakaian, serta kebutuhan dasar lainnya meningkat.
Rumah dengan kerusakan sedang dan ringan juga tetap membutuhkan pemeriksaan. Bangunan yang tampak masih berdiri belum tentu aman untuk ditempati apabila terdapat retakan pada struktur utama.
Karena itu, masyarakat terdampak diimbau tidak terburu-buru memasuki kembali bangunan yang mengalami kerusakan sebelum dinyatakan aman oleh petugas atau pihak berwenang.
Fasilitas Pendidikan Ikut Terdampak
Dampak gempa tidak hanya dirasakan oleh masyarakat yang kehilangan tempat tinggal. Sejumlah fasilitas publik juga mengalami kerusakan.
Data sementara BNPB mencatat kerusakan pada 87 fasilitas pendidikan, 18 fasilitas kesehatan, lima tempat ibadah, enam kantor, serta sejumlah fasilitas umum lainnya.
Kerusakan fasilitas pendidikan menjadi perhatian karena sekolah memiliki fungsi penting dalam kehidupan masyarakat. Dalam kondisi normal, sekolah menjadi tempat kegiatan belajar mengajar. Namun setelah bencana, sejumlah bangunan pendidikan harus diperiksa terlebih dahulu sebelum dapat digunakan kembali.
Kerusakan fasilitas kesehatan juga menjadi persoalan serius. Pada saat yang sama ketika jumlah warga yang membutuhkan pertolongan medis meningkat, sebagian fasilitas pelayanan kesehatan justru terdampak gempa.
Kondisi tersebut membuat pemerintah dan tim tanggap darurat perlu mengatur pelayanan medis secara fleksibel. Penanganan korban tidak hanya dilakukan di dalam gedung, tetapi dapat disesuaikan dengan kondisi lapangan dan tingkat keamanan bangunan.
Tempat ibadah yang terdampak juga membutuhkan perhatian dalam proses pemulihan. Begitu pula dengan kantor pemerintahan dan fasilitas publik lainnya yang diperlukan untuk mendukung aktivitas masyarakat.
Tim SAR Bergerak Evakuasi Korban
Setelah gempa terjadi, unsur pencarian dan pertolongan langsung bergerak melakukan penanganan di sejumlah lokasi terdampak.
Direktur Kesiapsiagaan Basarnas Noer Isrodin Muchlisin sebelumnya juga menyampaikan rincian korban dari beberapa wilayah. Dalam laporan awal, Manggarai, Manggarai Timur, Sikka, Manggarai Barat, dan Nagekeo disebut sebagai wilayah yang terdampak dan membutuhkan penanganan.
Namun, angka korban per wilayah pada laporan awal dapat berubah seiring proses verifikasi. Data terbaru BNPB kemudian mencatat total 47 korban meninggal dunia yang tersebar di lima kabupaten, yakni Manggarai, Manggarai Timur, Sikka, Ngada, dan Ende.
Perbedaan antara data awal dan pemutakhiran merupakan hal yang dapat terjadi dalam situasi tanggap darurat. Petugas membutuhkan waktu untuk menjangkau seluruh lokasi, melakukan identifikasi korban, serta menyinkronkan laporan dari pemerintah daerah, BPBD, Basarnas, dan unsur terkait lainnya.
Dalam kondisi bencana dengan akses yang terganggu, proses pendataan menjadi semakin sulit.
Akses Jalan dan Komunikasi Menjadi Tantangan
Penanganan gempa di Flores juga menghadapi persoalan akses. Sejumlah laporan menyebutkan adanya gangguan pada jalur transportasi akibat kerusakan maupun longsoran yang muncul setelah gempa.
Situasi tersebut berpengaruh langsung terhadap proses evakuasi dan distribusi bantuan. Tim penyelamat membutuhkan jalur yang aman untuk membawa peralatan, tenaga medis, makanan, serta kebutuhan dasar menuju daerah terdampak.
Gangguan komunikasi juga dapat memperlambat proses penyampaian informasi dari daerah ke pusat koordinasi.
Dalam keadaan seperti ini, petugas harus menggunakan berbagai jalur komunikasi dan transportasi yang masih dapat berfungsi. Koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BPBD, Basarnas, TNI, Polri, tenaga kesehatan, relawan, dan masyarakat menjadi sangat penting.
Setiap laporan mengenai warga yang membutuhkan pertolongan perlu segera diteruskan kepada tim yang berada paling dekat dengan lokasi tersebut.
Gempa Susulan Masih Terjadi
Ancaman belum sepenuhnya berakhir setelah gempa utama berhenti.
BMKG melaporkan bahwa hingga pukul 14.00 WIB pada Sabtu, tercatat 235 aktivitas gempa susulan dengan magnitudo berkisar antara 2,5 hingga 6,2. BMKG juga menyatakan tren aktivitas gempa susulan belum menunjukkan peluruhan yang signifikan pada saat laporan tersebut disampaikan.
Kondisi ini membuat masyarakat dan petugas harus tetap waspada.
Gempa susulan dapat menyebabkan bangunan yang sebelumnya telah mengalami kerusakan menjadi semakin tidak stabil. Oleh sebab itu, masyarakat diminta menjauhi bangunan yang retak, miring, atau mengalami kerusakan struktural.
BMKG memperkirakan proses peluruhan aktivitas gempa dapat berlangsung dalam rentang waktu tertentu. Artinya, kewaspadaan tetap dibutuhkan selama masa tanggap darurat dan pemulihan awal.
Warga juga diminta tidak mempercayai informasi yang belum jelas sumbernya, khususnya kabar mengenai gempa susulan atau tsunami yang beredar melalui media sosial.
Tsunami Sempat Menerjang Sejumlah Pesisir
Salah satu aspek penting dari gempa NTT kali ini adalah munculnya gelombang tsunami setelah gempa utama.
BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami hanya beberapa menit setelah gempa. Sistem peringatan tersebut dilakukan berdasarkan analisis cepat terhadap parameter gempa dan kemungkinan terjadinya perubahan muka laut.
Pemantauan kemudian menunjukkan adanya gelombang tsunami di beberapa lokasi.
Gelombang tertinggi yang tercatat dalam pemantauan BMKG mencapai 1,61 meter di Reo, Manggarai dan Manggarai Timur. Di Maurole, Ende, tinggi gelombang mencapai 0,94 meter.
Peringatan tsunami akhirnya dihentikan pada pukul 07.30 WIB setelah kondisi muka air laut dinyatakan kembali aman.
Meski peringatan telah berakhir, pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat pesisir. Ketika gempa kuat terjadi dan masyarakat merasakan guncangan yang berpotensi membahayakan, tindakan cepat untuk menjauh dari garis pantai dapat menjadi bagian penting dari mitigasi.
Mengapa Gempa Ini Menimbulkan Dampak Besar?
BMKG menjelaskan bahwa gempa tersebut merupakan gempa dangkal yang berkaitan dengan aktivitas Flores Back Arc Thrust. Struktur tersebut memiliki sejarah menghasilkan gempa kuat di kawasan Nusa Tenggara.
Kedalaman gempa sekitar 15 kilometer membuat energi guncangan relatif dekat dengan permukaan. Kondisi ini dapat meningkatkan dampak terhadap bangunan, terutama bangunan yang tidak dirancang atau tidak diperkuat untuk menghadapi guncangan gempa besar.
BMKG juga mencatat intensitas guncangan hingga VII MMI di sejumlah wilayah, termasuk Aesesa di Nagekeo dan Riung di Ngada. Intensitas tersebut menggambarkan guncangan kuat yang berpotensi menimbulkan kerusakan pada bangunan yang memiliki tingkat ketahanan rendah.
Dengan kondisi geografis Flores yang terdiri dari wilayah pesisir, perbukitan, dan kawasan dengan akses transportasi yang tidak selalu mudah, bencana gempa dapat menimbulkan efek berantai.
Kerusakan bangunan dapat disusul gangguan jalan, terputusnya akses ke desa, gangguan listrik dan komunikasi, hingga kesulitan mendistribusikan bantuan.
Bantuan Pangan dan Kebutuhan Dasar Mulai Disalurkan
BNPB bersama berbagai unsur terkait mulai melakukan distribusi bantuan kepada masyarakat terdampak.
Bantuan tidak hanya berupa makanan, tetapi juga mencakup kebutuhan non-pangan. Penyaluran bantuan menjadi bagian penting dalam memastikan warga yang kehilangan tempat tinggal atau tidak dapat kembali ke rumah tetap mendapatkan kebutuhan dasar.
Pemerintah juga menyiapkan dukungan dalam skala lebih besar. Laporan terbaru menyebut pemerintah mengirimkan 50 ribu paket sembako untuk masyarakat terdampak gempa di NTT. Paket tersebut diberangkatkan menuju Maumere sebagai bagian dari respons pemerintah terhadap bencana.
Distribusi bantuan dalam jumlah besar tetap membutuhkan pengaturan yang baik agar bantuan dapat sampai kepada warga yang benar-benar membutuhkan.
Pendataan penerima menjadi penting agar bantuan tidak hanya terkonsentrasi di wilayah yang mudah dijangkau, sementara masyarakat di daerah terpencil tertinggal.
Pemerintah Fokus pada Evakuasi dan Pemulihan
Penanganan bencana tidak berhenti pada pencarian korban.
Setelah fase evakuasi dan penyelamatan, pemerintah harus menghadapi tahap pemulihan yang jauh lebih panjang. Rumah warga harus diperbaiki atau dibangun kembali, sekolah dan fasilitas kesehatan perlu dipulihkan, serta infrastruktur yang rusak harus diperiksa.
BMKG juga menyiapkan dukungan teknis melalui pemetaan dan analisis kondisi tanah. Tim BMKG bersama unit pelaksana teknis di NTT melakukan survei untuk melihat karakteristik tanah dan respons wilayah terhadap guncangan.
Hasil analisis tersebut dapat digunakan sebagai salah satu dasar dalam proses pembangunan kembali maupun penguatan bangunan yang terdampak.
Langkah tersebut penting karena rekonstruksi pascabencana seharusnya tidak sekadar mengganti bangunan yang runtuh dengan bangunan baru. Pembangunan kembali perlu mempertimbangkan risiko bencana agar bangunan yang didirikan lebih mampu menghadapi gempa berikutnya.
Masyarakat Diminta Tidak Panik, tetapi Tetap Waspada
Dalam kondisi pascagempa, masyarakat menghadapi tekanan psikologis yang cukup berat. Suara gemuruh, guncangan susulan, bangunan rusak, kehilangan anggota keluarga, dan ketidakpastian kondisi tempat tinggal dapat membuat warga merasa takut.
Karena itu, penyampaian informasi yang akurat menjadi sangat penting.
Masyarakat sebaiknya memperoleh informasi gempa dan tsunami dari sumber resmi seperti BMKG, BNPB, BPBD, Basarnas, serta pemerintah daerah. Informasi yang tidak memiliki sumber jelas sebaiknya tidak langsung dipercaya atau disebarkan.
Khusus bagi warga yang tinggal di bangunan yang mengalami kerusakan, keselamatan harus menjadi prioritas.
Jangan memaksakan diri masuk ke rumah hanya untuk mengambil barang apabila struktur bangunan masih berisiko runtuh. Dokumen penting, obat-obatan, dan kebutuhan dasar memang penting, tetapi keselamatan manusia tetap harus ditempatkan di atas harta benda.
Proses Pendataan Kerusakan Masih Berlangsung
Jumlah 47 korban meninggal dan 346 rumah rusak merupakan data sementara dalam penanganan bencana yang masih berlangsung.
Petugas masih perlu melakukan verifikasi di lapangan untuk memastikan kondisi seluruh wilayah terdampak. Pendataan seperti ini penting agar pemerintah memiliki gambaran mengenai kebutuhan bantuan dan prioritas pemulihan.
Data korban juga harus melalui proses identifikasi yang tepat untuk memastikan setiap keluarga mendapatkan informasi yang jelas.
Sementara itu, kerusakan fasilitas publik harus dipetakan berdasarkan tingkat kerusakannya. Fasilitas yang masih dapat digunakan perlu dipastikan keamanannya, sedangkan bangunan yang tidak layak harus segera dikosongkan.
Dalam tahap berikutnya, pemerintah perlu menentukan fasilitas mana yang harus dipulihkan terlebih dahulu berdasarkan kebutuhan masyarakat.
Flores Kembali Menghadapi Ancaman Gempa
Bencana terbaru ini kembali mengingatkan bahwa Flores merupakan kawasan yang memiliki risiko gempa cukup tinggi.
Wilayah NTT secara geografis berada di kawasan yang aktif secara tektonik. Sejarah kegempaan di Flores juga menunjukkan bahwa gempa kuat dapat menimbulkan kerusakan besar dan tsunami.
BMKG mencatat aktivitas Flores Back Arc Thrust sebagai salah satu sumber gempa penting di kawasan tersebut. Struktur tektonik itu memiliki rekam sejarah menghasilkan gempa besar, termasuk peristiwa Flores pada 1992 yang disertai tsunami.
Karena itu, kesiapsiagaan tidak dapat hanya dilakukan setelah bencana terjadi.
Pemerintah daerah perlu memastikan jalur evakuasi tersedia dan dapat digunakan. Masyarakat perlu mengetahui lokasi pengungsian serta memahami langkah yang harus dilakukan ketika gempa kuat terjadi.
Sekolah, rumah sakit, kantor pemerintah, tempat ibadah, dan fasilitas publik lainnya juga perlu memperhatikan aspek keselamatan bangunan.
Pelajaran Penting dari Gempa NTT
Bencana gempa magnitudo 7,7 ini memberikan sejumlah pelajaran penting.
Pertama, informasi cepat dan akurat sangat menentukan. Dalam beberapa menit setelah gempa, BMKG harus melakukan analisis untuk menentukan kemungkinan tsunami. Keputusan tersebut dapat memengaruhi tindakan ribuan warga di wilayah pesisir.
Kedua, kondisi bangunan menjadi faktor penting dalam menentukan tingkat kerusakan. Bangunan yang tidak memiliki struktur tahan gempa lebih rentan mengalami kerusakan ketika menerima guncangan kuat.
Ketiga, akses menuju daerah terpencil harus menjadi perhatian dalam sistem penanggulangan bencana. Jalan yang tertutup longsor atau rusak dapat menghambat evakuasi dan distribusi bantuan.
Keempat, masyarakat perlu memiliki pengetahuan dasar tentang mitigasi gempa. Ketika guncangan terjadi, warga harus mengetahui cara melindungi diri, memilih lokasi aman, dan memahami kapan harus melakukan evakuasi.
Kelima, proses pemulihan harus dirancang sejak awal dengan mempertimbangkan risiko bencana berikutnya.
Pembangunan kembali rumah dan fasilitas publik harus mengarah pada konsep build back better, yakni membangun kembali dengan kualitas dan ketahanan yang lebih baik dibandingkan sebelum bencana.
Apa yang Harus Dilakukan Warga Setelah Gempa?
Masyarakat yang berada di wilayah terdampak perlu tetap memperhatikan beberapa hal penting selama masa pemulihan.
Bangunan yang mengalami retakan atau kerusakan sebaiknya tidak langsung ditempati. Warga perlu menunggu pemeriksaan dari pihak yang berkompeten sebelum kembali.
Jika terjadi gempa kuat kembali, masyarakat harus segera melindungi kepala dan tubuh dari benda yang dapat jatuh. Setelah guncangan berhenti, warga dapat bergerak menuju tempat aman dengan memperhatikan kemungkinan adanya gempa susulan.
Bagi warga di wilayah pesisir, kewaspadaan terhadap informasi tsunami juga harus dipertahankan. Apabila otoritas mengeluarkan peringatan evakuasi, masyarakat perlu mengikuti arahan tersebut dan tidak menunggu sampai kondisi menjadi lebih berbahaya.
Yang tidak kalah penting, masyarakat harus menghindari penyebaran informasi yang belum terverifikasi.
Dalam situasi bencana, kabar palsu dapat memicu kepanikan dan mengganggu proses penanganan di lapangan. Informasi resmi dari BMKG dan BNPB harus menjadi rujukan utama.
Penanganan Korban Menjadi Prioritas Utama
Dengan jumlah korban meninggal yang telah mencapai 47 orang, pencarian dan pertolongan tetap menjadi salah satu prioritas utama.
Tim di lapangan harus memastikan korban yang masih membutuhkan pertolongan dapat segera dievakuasi dan memperoleh perawatan medis. Sementara itu, keluarga korban membutuhkan informasi yang jelas mengenai kondisi anggota keluarganya.
Koordinasi antarlembaga menjadi sangat penting karena penanganan bencana dengan skala seperti ini tidak dapat dilakukan oleh satu institusi saja.
BNPB memiliki peran dalam koordinasi penanggulangan bencana, Basarnas menjalankan fungsi pencarian dan pertolongan, BMKG menyediakan informasi kegempaan dan tsunami, sedangkan pemerintah daerah serta BPBD menjadi ujung tombak penanganan di wilayah masing-masing.
Dukungan TNI, Polri, tenaga kesehatan, relawan, organisasi kemanusiaan, dan masyarakat juga diperlukan untuk mempercepat respons.
Data Korban dan Kerusakan Dapat Berubah
Perlu ditegaskan bahwa angka korban dan kerusakan yang diberitakan pada fase awal bencana merupakan data sementara.
Situasi di lapangan dapat berubah setelah petugas berhasil menjangkau daerah yang sebelumnya terisolasi. Proses identifikasi korban juga membutuhkan ketelitian agar tidak terjadi kesalahan data.
BNPB pada pembaruan yang dikutip dalam laporan ini mencatat 47 korban meninggal dunia. Rincian tersebut berasal dari lima kabupaten: Manggarai 24 orang, Manggarai Timur 17 orang, Sikka tiga orang, Ngada satu orang, dan Ende satu orang.
Untuk kerusakan rumah, data sementara yang tersedia mencatat 157 rumah rusak berat, 41 rusak sedang, dan 148 rusak ringan. Kerusakan fasilitas publik juga mencakup puluhan fasilitas pendidikan, kesehatan, tempat ibadah, kantor, serta fasilitas lainnya.
Karena proses asesmen masih berjalan, perkembangan terbaru tetap perlu mengikuti pembaruan resmi dari pemerintah.
Kesimpulan
Gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur pada Sabtu, 15 Agustus 2026, menjadi salah satu bencana besar yang menimbulkan dampak serius di Pulau Flores. BNPB mencatat sedikitnya 47 orang meninggal dunia, sementara ratusan rumah dan fasilitas publik mengalami kerusakan. Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur menjadi wilayah dengan jumlah korban terbanyak. Gempa dangkal yang berkaitan dengan aktivitas Flores Back Arc Thrust tersebut juga memicu tsunami yang terpantau di sejumlah pesisir sebelum peringatan dini tsunami diakhiri pada pagi hari. Dengan ratusan gempa susulan yang masih tercatat, proses evakuasi, pendataan, distribusi bantuan, pelayanan kesehatan, dan pemulihan harus terus dilakukan secara terpadu. Masyarakat di wilayah terdampak diharapkan tetap tenang, tidak memasuki bangunan yang rusak, mengikuti arahan petugas, serta menjadikan informasi resmi BMKG dan BNPB sebagai rujukan utama hingga kondisi benar-benar aman.

